Hear U'r God

Hear U'r God
Sebuah potret atas ilham-ilham yang akan Allah berikan pada kita untuk kekuatan kita menempuh hidup di dunia ini. Dengarkan baik-baik setiap dengungan nadanya, intonasinya, dan warnanya yang membentuk suatu kesatuan petunjuk kebenarannya..

Minggu, 03 Juli 2011

Kalimat Inti dan kalimat Turunan

PENDAHULUAN

Pembicaraan mengenai kalimat inti dan kalimat non-inti setidaknya kita telah lebih dulu mengenal bidang sintaksis. Bidang ini yang sesuai dengan arti yang disebutkan oleh Abdul Chaer yaitu membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain. Karena itulah kalimat inti dan kalimat non-inti merupakan salah satu bidang dalam proses sintaksis. Sedangkan secara etimologi, sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti ‘dengan’ dan kata tattein yang berarti ‘menempatkan’. Jadi istilah itu berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Pada umumnya bidang sintaksis sering dihubungkan dengan urusan kalimat, mengenai permasalahan tata kalimat, serta seluk beluk kalimat. Padahal bidang sintaksis ini tidak hanya tertuju pada permaslahan kalimat, namun juga mengenai klausa dan kata. Maka dari itu, kalimat mempunyai dasar pembentukannya yaitu berupa konstituen dasar dan intonasi final. Konstituen dasar itu seperti klausa atau kata. Lalu instonasi final berupa tanda baca seperti tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.
Makalah ini bertema kalimat inti dan kalimat non-inti. Tema tersebut merupakan salah satu bagian dari pembahasan kalimat yang merupakan kajian dari bidang/ilmu sintaksis. Selain dari kalimat inti dan kalimat non-inti, juga terdapat kalimat tunggal dan kalimat non-tunggal, lalu ada kalima mayor dan kalimat minor, kalimat Verbal dan klaimat non-verbal, hingga sering terjadi kecelakaan seperti kalimat bebas dan kalimat non-bebas. Namun kita lebih fokus pembuatan makalah ini dengan tema kalimat inti dan kalimat non-inti.

PEMBAHASAN

                              I.            Pengertian Kalimat Inti
            Kalimat inti, ialah kalimat yang terdiri dari dua unsur pusat atau inti. Pembahasan tentang kalimat inti pada dasarnya berkaitan dengan S, P, O, Pel., dan K. Pada Bab S, P, O, Pel., dan K dijelaskan bahwa unsur inti kalimat meliputi S, P, dan O atau Pel., tetapi kedua unsur terakhir kehadirannya bergantung pada jenis kata yang menempati P. Sebaliknya, unsur K tidak termasuk ke dalam unsur inti kalimat yang disebut dengan kalimat bukan inti. 

                            II.            Ciri-ciri kalimat inti
• Hanya terdiri atas unsur inti kalimat (S, P, O/Pel.);
• Unsur-unsur inti itu selalu berupa kata, tidak mungkin berupa kelompok kata;
• berpola kalimat normal (SP), bukan kalimat inversi (PS);
• Berupa kalimat berita; dan
• Tidak dalam bentuk kalimat negatif

Contoh:
(1) Ibu pergi.
        S    P

(2) Kakak membaca majalah.
          S          P             O

(3) Ibu berjualan beras.
        S       P          Pel. 

Ketiga kalimat di atas termasuk kalimat inti sebab dapat memenuhi ciri-ciri kalimat inti sebagaimana disebutkan di atas.

                       III.            Menentukan Kalimat Inti

            Dalam kenyataan sehari-hari kita lebih sering bertemu dengan kalimat luas, yaitu kalimat inti yang sudah ditransformasikan dengan cara menambahkan kata atau fungsi pada kalimat tersebut. Dengan demikian, sebuah kalimat luas dapat dikembalikan menjadi kalimat inti. 
Proses mengembalikan sebuah kalimat luas menjadi kalimat inti perlu memperhatikan hal-hal, sebagai berikut :

• Kalimat luas bisa berbentuk kalimat tunggal atau kalimat majemuk. Sebuah kalimat baik tunggal maupun majemuk pasti memiliki klausa bebas atau klausa utama. Perlu diketahui klausa ada dua jenis: (1) klausa bebas/klausa utama/induk kalimat, dan (2) klausa terikat/klausa sematan/klausa bawahan/anak kalimat. Ciri klausa terikat adalah adanya konjungsi subordinatif di awal klausa tersebut. Dibandingkan dengan klausa terikat, klausa bebas merupakan bagian terpenting sebuah kalimat. Karena itu, kalimat inti atau inti kalimat terletak pada klausa bebas kalimat tersebut.

• Sebab kalimat inti terdiri atas unsur inti kalimat (S, P, O, atau Pel.), unsur bukan inti kalimat harus diabaikan. Unsur K sebuah kalimat biasanya (1) berupa klausa terikat yang diawali konjungsi subordinatif yang bukan bahwa; (2) berupa frase preposisional yaitu frase yang diawali preposisi; dan (3) berupa kata yang dapat mendahului P dan kehadirannya dapat ditiadakan.

• Kalimat inti adalah kalimat yang unsur S, P, O, atau Pel berupa sebuah kata, bukan frase. Karena itu, jika unsur-unsur itu masih berupa frase, kita harus menentukan mana kata yang menjadi inti dan kata yang bukan inti frase itu. kita hanya memerlukan intinya, sedangkan yang bukan inti harus kita abaikan.

            Perhatikan contoh menentukan kalimat inti berikut ini. Ketika pertemuan itu berlangsung di Jakarta, beberapa tokoh pemuda yang berasal dari daerah tersebut telah dipilih untuk menjadi pimpinan organisasi itu meskipun beberapa orang di antaranya menyatakan keberatannya.

            Untuk menentukan asal kalimat luas di atas, lakukan langkah-langkah seperti di bawah ini:
·        Tentukan konjungsi subordinatif pada kalimat tersebut agar kita dapat menandai klausa terikatnya.
·        Konjungsi subordinatif yang terdapat pada kalimat itu adalah ketika, yang, untuk, dan meskipun. Jadi klausa terikat kalimat tersebut adalah:
ketika pertemuan itu berlangsung di Jakarta;
yang berasal dari daerah tersebut;
untuk menjadi pimpinan organisasi itu;
meskipun beberapa orang di antaranya menyatakan keberatannya.

            Setelah memisahkan klausa terikatnya, kita mendapatkan klausa bebas kalimat tersebut, yaitu :
beberapa tokoh pemuda telah dipilih
                     S                        P
Sebab S=beberapa tokoh pemuda dan P=telah dipilih merupakan sebuah frase, langkah selanjutnya adalah menentukan mana unsur inti dan bukan inti pada frase tersebut. Menentukan inti dan bukan inti sebuah frase dapat menggunakan hukum D-M, di mana D=Diterangkan=inti, pokok, pangkal frase itu, sedangkan M=menerangkan=atribut, penjelas, aksesori frase tersebut.

beberapa tokoh pemuda
     M         D        M
Telah dipilih
M         D

Jadi, inti frase beberapa tokoh pemuda adalah tokoh, sedangkan telah dipilih adalah dipilih. 

Dengan demikian, kalimat inti Ketika pertemuan itu berlangsung di Jakarta, beberapa tokoh pemuda yang berasal dari daerah tersebut telah dipilih untuk menjadi pimpinan organisasi itu meskipun beberapa orang di antaranya menyatakan keberatannya adalah Tokoh dipilih.

                       IV.            Kalimat bukan inti
            Kalimat non inti merupakan hasil proses dari mentransformasikan Kalimat Inti
Sebuah kalimat inti dapat ditransformasikan menjadi kalimat transformasi atau kalimat luas dengan mengubah ciri-cirinya, tetapi dengan tetap mempertahankan kata pada S dan P sebagai intinya.
Kalimat Inti: (2) Kakak membaca majalah.
Kalimat-kalimat di bawah ini merupakan hasil transformasi dari kalimat tersebut.
(2a) Kakak membaca majalah? 
(2b) Kakak membaca majalah tadi.
(2c) Kakak saya yang paling tua membaca majalah tadi.
(2d) Kakak tidak membaca majalah.
(2e) Membaca majalah, kakak.
(2f) Kakak membaca majalah saat hujan turun dengan deras.
Kalimat (2a) sampai dengan (2f) merupakan kalimat hasil transformasi dari kalimat (2) kakak membaca majalah. Jika diperhatikan kalimat (2a) sampai dengan (2f), memiliki inti S dan P yang sama dengan kalimat (2), S masih tetap diisi kata kakak dan P diisi oleh kata membaca. 
Perhatikan kalimat di bawah ini!
(4) Kakak yang membaca majalah itu sangat baik.
Apakah kalimat (4) di atas merupakan hasil transformasi dari kalimat (2)? Bila kalimat di atas diteliti fungsi-fungsinya terlihat bahwa kata kakak sebagai S, yang membaca majalah itu sebagai K yang menjelaskan S, dan sangat baik sebagai P. Jadi, kalimat itu bukan berasal dari kalimat.
(2), melainkan berasal dari kalimat Kakak baik. 

                            V.            Tip cara cepat dalam menentukan kalimat inti.

            Dengan memahami klausa terikat dan frase preposisional, kita dapat menyederhanakan proses pencarian kalimat inti dengan mencoret klausa terikat dan frase preposisional dari kalimat jika memang ada. Demikian juga, mengetahui mana D dan M sebuah frase membantu kita dalam menentukan inti kalimat.


Ketika pertemuan itu berlangsung di Jakarta, beberapa tokoh pemuda yang berasal dari 
M D M

daerah tersebut telah dipilih untuk menjadi pimpinan organisasi itu meskipun beberapa 
M D 
orang di antaranya menyatakan keberatannya.
Misalnya yang lebih real kita bedakan dengan kalimat turunan untuk lebih jelasnya.   

Perbedaan kalimat Inti dengan Kalimat Turunan

KALIMAT INTI
KALIMAT TURUNAN
Tunggal
Bersusun / majemuk
Sempurna
Tak sempurna, elips
Pernyataan
Pertanyaan, perintah
Aktif
Medial, pasif
Afirmatif
negatif

Berikut ini sejumlah contoh kalimat inti :

a.      Ruli membaca Koran.
 S         P            O

b.      Kamterbiasa menyimak siaran berita dari TV.
S                       P                            O         K

c.       Anjing penjaga itu tertidur.
   S                            P

d.      Para siswa SD Situraja I membersihkahalaman sekolah.
    S                                          P                      O
 
                                                PENUTUP
            Jadi kalimat inti dan kalimat non inti merupakan sub bagian dari materi sintaksis. Kalimat inti, biasa juga disebut kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap dan bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif. Misalnya:
FN + FV + FN + FN: Nenek membacakan kakek komik
Ket :FN=Frase Nominal (diisi sebuah kata nominal);FV=FraseVerbal;
FA=Frase Ajektifa; FNum=Frase Numeral; FP=Frase Preposisi.
Kalimatinti dapat diubah menjadi kalimat noninti denganber bagai proses
transformasi:
KALIMAT INTI + PROSES TRANSFORMASI = KALIMAT NONINTI
Ket :
Proses Transformasi antara lain transformasi pemasifan, transformasi pengingkaran,transformasi penanyaan, transformasi pemerintahan, transformasi pengonversian,transformasi pelepasan, transformasi penambahan.

                                                Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis bahasa Indonesia (pemdekatan proses). Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Zaenal Arifin dan Junaiyah. 2008. Sintaksis.  Jakarta : PT. Grasindo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar