Hear U'r God

Hear U'r God
Sebuah potret atas ilham-ilham yang akan Allah berikan pada kita untuk kekuatan kita menempuh hidup di dunia ini. Dengarkan baik-baik setiap dengungan nadanya, intonasinya, dan warnanya yang membentuk suatu kesatuan petunjuk kebenarannya..

Selasa, 12 Juli 2011

Fakta Sosial-Religi dalam Drama “Sebelum Sembahyang” Analisis Sosilogi Sastra

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Karya sastra adalah sebuah hasil ciptaan manusia yang mengandung nilai keindahan yang tinggi karena semua bentuk dari karya sastra dibuat berdasarkan dengan hati dan pemikiran yang jernih. Dengan kata lain karya sastra adalah cerminan dari hati seseorang dalam hal ini pengarang. Sehingga dalam memaknai suatu karya sastra memerlukan banyak pertimbangan dalam menentukan apa maksud dan tujuan dari karya sastra ini. Dengan kata lain bahwa suatu karya sastra adalah dunia kemungkinan, jadi jika pembaca berhadapan dengan sebuah karya sastra, maka pembaca akan dihadapkan dengan banyak kemungkinan atas suatu penafsiran.
Secara utuh karya sastra terbagi atas tiga macam, yakni puisi, prosa dan drama. Ketiga jenis karya sastra tersebut memiliki bentuk yang berbeda-beda, namun ketiganya juga memiliki kesamaan yang tidak bisa terpisahkan, yakni sama-sama memiliki makna yang terpendam jauh di dalam sehingga tidak tampak jelas jika kita melihatnya secara kasat mata, kasat mata yang dimaksud adalah cara memaknai sebuah karya sastra tanpa mengacu pada sebuah pendekatan atau teori-teori sastra.
Oleh karena itu, untuk memaknai sebuah karya sastra tentunya harus digunakan dan mengacu pada sebuah pendekatan, ibaratnya jika ingin memotong sesuatu tentunya kita harus menggunakan alat pemotong bukan alat transportasi.
 Dalam makalah singkat ini akan dianalisis sebuah karya sastra yang berjenis drama. Dan drama yang akan dianalisis adalah drama yang berjudul “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R. Adapun pendekatan yang akan digunakan adalah penulis akan menggunakan sebuah pendekatan yang disebut pendekatan sosiologi sastra dan untuk lebih mendetailkan hasil analisis, penulis akan menggunakan pendekatan sosiologi sastra yang mengacu pada sosiologi karya sastra.
Menurut Wellek dan Warren (1993: 111), salah satu pendekatan sosiologi sastra yaitu sosiologi karya sastra: yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra; yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau  amanat yang hendak disampaikannya;
Diharapkan dari hasil analisis ini akan tercipta sebuah literatur yang bisa berguna bagi pembaca nantinya mengenai pendekatan sosiologi dan menambah pengetahuan bagi pembaca makalah ini nantinya.
B.  Rumusan Masalah
Dalam menganalisis sebuah karya sastra, tentunya penulis selaku pelaku analisis akan dihadapkan dengan berbagai masalah akan penafsiran yang ada pada suatu karya sastra yang dalam hal ini adalah drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R. Oleh karena itu, dalam menganalisis penulis tentunya akan berhadapan dengan masalah-masalah mengenai pemaknaan dan penafsiran naskah drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R. Adapun masalah yang akan dibahas oleh penulis dalam makalah ini adalah:
  1. Menentukan konflik sosial yang terdapat dalam naskah drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi?
  2. Menentukan apakah hubungan antara konflik yang terdapat dalam naskah dengan kenyataan dalam masyarakat?
C.  Tujuan
Alasan-alasan yang telah dikemukakan pada latar belakang merupakan faktor pendorong dibuatnya makalah ini dan setelah mengungkapkan masalah dalam makalah ini, maka tentunya penulis memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam membuat makalah ini. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam poin B yakni terdapat masalah, maka sehubungan dengan itu penulis ingin menyelesaikan masalah tersebut. Adapun tujuannya adalah sebegai berikut:
  1. Untuk mengetahui konflik yang terdapat dalam naskah drama, dalam hal ini masalah yang diangkat oleh pengarang untuk disampaikan pada pembaca.
  2. Untuk menentukan hubungan atau korelasi antara konflik dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan.
D. Manfaat
Adapun dalam membuat suatu hasil analisis dalam hal ini menganalisis suatu karya sastra  tentunya secara otomatis memiliki manfaat yang akan didapat, baik itu untuk penulis maupun untuk pembaca makalah ini nantinya. Manfaat yang akan didapat setelah pembuatan makalah ini, yakni:
  1. Dengan diketahuinya konflik yang terdapat dalam naskah drama, maka kita sebagai pembaca tentunya akan mendapat cerminan diri dari naskah drama ini dan akan membuat kita untuk melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.
  2. Setelah mengetahui hubungan yang terdapat antara konflik yang terdapat dalam drama, maka sebagai pembaca kita akan mengetahui maksud dan tujuan dari pengarang dalam membuat naskah tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konflik Sosial Dalam Naskah Drama “Sebelum Sembahyang” Karya Kecuk Ismadi C.R
Setelah membaca dengan teliti naskah drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R, maka kita dapat menentukan konflik yang terdapat dalam naskah drama tersebut. Konflik yang terdapat dalam drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R adalah mengangkat tentang konflik sosial yang membahas tentang kehidupan religi masyarakat yang dalam naskah drama ini diperankan oleh empat orang pencopet. Dalam naskah drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R dikisahkan tentang empat orang pencopet yang jarang sekali mendengar adzan, malahan salah satu dari mereka ada yang belum pernah mendengar adzan sama sekali. Ini dikarenakan mereka selalu hidup di lingkungan yang sangat buruk dan jauh dari kehidupan agama. Hal ini tergambar dalam dialog antara pencopet, yakni sebagai berikut:
Copet III: Suara apa itu?
Copet II : Suara orang adzan.
Copet I  : Apa? Suara orang edan?
Copet II : Adzan, Goblok!
            Dari dialog di atas terdapat gambaran bahwa ketiga orang ini sama sekali jauh dari agama, sehingga suara adzan sama sekali tidak dikenal oleh salah satu dari mereka. Selain itu, keempat orang ini yang juga pencopet yang selalu berbuat kriminal dengan melakukan penodongan tanpa peduli siapa yang ditodong walaupun si korbannya adalah seorang wanita sekalipun. Hal ini dimunculkan dalam naskah dengan adegan penodongan yang mereka lakukan pada sorang wanita yang hendak ke mesjid untuk melaksanakan shalat. Lebih parahnya lagi mereka memiliki niat yang lebih buruk. Tidak cuma mencopet dan mengambil barang-barang milik perempuan tersebut, mereka juga memiliki niat untuk memperkosa wanita tersebut. Hal ini terdapat dalam dialog dalam drama  yaitu sebagai berikut:
Copet I :   Sudah, sudah perkara sepele saja diributkan. Kan sekarang ada perkara yang lebih menarik dan menguntungkan. Tuh, tuh lihat dia mau pergi. Heh, heh mau pergi ke mana, nih. Ayo, Kawan. Kita gasak dia. Kita preteli perhiasannya. Kita perkosa orangnya. (Tiba-tiba datang seorang kiai).
Dari dialog di atas nampak dengan jelas bahwa keempat pencopet ini adalah orang-orang yang buruk dalam bersosialisasi dan sangat kurang ajar. Hal ini dikarenakan kehidupan mereka telah terjerumus dalam lembah kenistaan, mereka tidak lagi mengenal Tuhan sehingga membuat mereka tidak ditanggung-tanggung untuk melakukan perbuatan dosa yang sebenarnya adalah dosa yang sangat besar. Namun, di samping sifat-sifat jahat dan nakal yang mereka miliki, mereka ternyata masih memiliki sifat baik dan mau bertobat. Hal ini tergambar dalam dialog mereka dengan tokoh Kiai yang telah berhasil mengalahkan mereka pada saat si Kiai menolong wanita tersebut. Adapun dialog tersebut adalah sebagai berikut:
Copet II :   Kawan-kawan alangkah baiknya tawaran Pak Kiai. Kita telah ditaklukkannya. Dan jadi berandal pun lama-lama bosan juga. Pikiran selalu tidak tenang dan khawatir. Oh, aku jadi ingat sebuah nasihat.
“Bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu sendiri tidak mau mengubah”. Betul begitu bukan, Pak Kiai?
Dari dialog di atas dapat disimpulkan  bahwa sebenarnya keempat pencopet ini adalah orang-orang yang masih mempunyai akal dan kesadaran layaknya manusia. Yang terjadi dalam diri mereka hanyalah suatu kehilafan yang  mereka sendiri tidak menyadarinya.
Dari segi sosiologi, perilaku tersebut merupakan perilaku menyimpang dalam dunia sosial yang menyangkut kehidupan masyarakat banyak. Dalam arti konflik yang disebabkan oleh para pencopet merupakan perilaku yang mengganggu kehidupan orang banyak di lingkungan pencopet tersebut. Menurut Budirahayu dalam Narwoko dan Suyanto (2004), perilaku menyimpang mempunyai dua definisi, yaitu definisi objektif dan definisi subjektif. Definisi objektif yaitu perilaku menyimpang diartikan sebagai perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku. Sedangkan definisi subjektif mengacu pada aggapan besar masyarakat (minimal di suatu kelompok atau komunitas tertentu) perilaku atau tindakan tersebut di luar kebiasaan, tata aturan, adat istiadat, nilai-nilai, atau norma sosial yang berlaku.
Dari penjelasan di atas, para pencopet tersebut melakukan perilaku menyimpang menurut definisi objektif maupun definisi subjektif. Secara objektif, perbuatan yang mereka lakukan yaitu perbuatan yang memang melanggar norma yang sudah ada, tata aturan yang tentu telah dikomunikasikan dan disosialisasikan kepada masyarakat pada umumnya. Sedangkan secara subjektif, perilaku menyimpang mereka ditentukan bersalah oleh masyarakat yang memang memegang kontrol kendali penuh terhadap nilai sosial di lingkungan tersebut seperti tokoh Kiai dalam cerita tersebut.
Selanjutnya, perilaku menyimpang tersebut digolongkan dalam perilaku menyimpang yang berupa tindakan-tindakan kriminal. Menurut Budiyanti (2004), Tindakan kriminal yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan-aturan hukum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain. Tindakan kriminal yang sering kita temui itu misalnya: pencurian, perampokan, pembunuhan, korupsi, perkosaan, dan berbagai bentuk tindak kejahatan lainnya, baik yang tercatat di kepolisian maupun yang tidak karena tidak dilaporkan oleh masyarakat, tetapi nyata-nyata mengancam ketentraman masyarakat. Para pencopet tersebut dalam drama “Sebelum Sembahyang” telah nyata-nyata melanggar aturan hukum tertulis pada peraturan keamanan yaitu mengancam jiwa seorang wanita yang akan hendak pergi ke masjid. Tindakan yang dilakukan para pencopet tersebut yaitu perampokan dan perkosaan meskipun hal itu belum terjadi, namun para pencopet tersebut telah meresahkan ketentraman masyarakat.
B.     Hubungan Konflik Sosial Dengan Kenyataan Dalam Kehidupan
Menurut Ian Watt, telaah suatu karya sastra salah satunya yaitu sastra sebagai cermin masyarakat, yang ditelaah adalah sampai sejauh mana sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat. Sehingga drama di atas merupakan fenomena-fenomena yang mencerminkan kejadian yang sesungguhnya dan terjadi di kehidupan masyarakat. Mungkin memang tidak sama persis seperti fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal itu disebabkan karena penciptaan karya sastra yang mengacu pada kehidupan masyarakat tentu diciptakan dengan dibumbui seni-seni dalam berkarya agar lebih mengena pada dunia pembaca sebagai kritik sosial atau lainnya.
Fenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat memang menarik untuk dibicarakan. Sisi yang menarik bukan saja karena pemberitaan tentang berbagai perilaku manusia yang ganjil itu dapat mendongkrak rating media massa dan media elektronik, tetapi juga karena tindakan-tindakan tersebut dianggap dapat menganggu kehidupan dan ketertiban masyarakat. Kasus-kasus pelanggaran norma susila dan berbagai tindakan kriminal yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi, atau gosip-gosip  gaya hidup selebritis yang terkesan jauh berbeda dengan kehidupan nyata masyarakat, meskipun dicari penontonnya karena dapat memenuhi hasrat ingin tahu mereka, juga sering kali dicaci karena perilaku yang dianggap tak layak. Hal tersebut yang merupakan cerminan dari kehidupan sosial dunia nyata terhadap kehidupan sosial drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R.
Dalam penjelasan mengenai konflik sosial yang terdapat dalam drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R, dijelaskan bahwa konflik sosial yang terdapat dalam drama adalah membahas mengenai kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang dimaksud adalah kehidupan yang sangat jauh dari agama disebabkan karena kehidupan mereka yang salah letak dalam artian mereka berada pada lingkungan yang sangat buruk dan tidak mendukung dalam kehidupan beragama. Sehingga akibatnya mereka tidak terlalu takut akan adanya dosa dan perbuatan buruk sehingga mendorong mereka untuk selalu berbuat sesuka hati tanpa adanya hukum agama yang mengikat atau setidaknya menahan mereka untuk tidak berbuat jahat.
Dari isi yang terkandung dalam drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R, jika dihubungkan dengan dunia nyata, maka kita bisa mengambil dan menarik benang merah antara konflik yang terdapat dalam drama dengan kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa sebagian besar manusia pada zaman sekarang terutama generasi muda yang seharusnya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan telah menjadi generasi yang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Hal ini disebabkan oleh mental yang sudah rusak dan jauh dari harapan untuk dijadikan sebagai pemimpin bangsa kelak. Hal ini disebabkan karena mereka sudah jauh dari kehidupan religi yang merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan anak.
Oleh karena itu, dalam drama ini pengarang menghadirkan isu yakni buruknya mental anak-anak muda yang jauh sekali dari kepribadian yang diharapkan oleh kita semua yakni sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini dimaksudkan oleh pengarang adalah untuk menyadarkan kita semua sebagai warga masyarakat bahwa penting bagi kita semua untuk terus berpegang kepada agama karena sesungguhnya hukum yang paling tinggi adalah agama tanpa adanya agama hidup kita kurang sempurna. Selain dari maksud dan tujuan yang ingin disampaikan oleh pengarang bahwa kita harus selalu berpegang kepada agama, ada juga pesan lain yang ingin disampaikan kepada orang-orang yang memiliki peran dalam perkembangan anak, yakni orang tua. Pengarang ingin menyampaikan kepada para orang tua bahwa sesungguhnya perkembangan anak adalah tidak lepas dari orang tuanya juga,, jika didikan yang diberikan kepada anak adalah didikan yang baik, maka kelakuan anak juga akan menjadi baik dan begitu juga sebaliknya. Hal ini dimunculkan dalam drama yaitu pada dialog Pak Kiai, yakni sebagai berikut:
Kiai : Pada mulanya kalian ini  adalah fitrah. Namun, orang tuamu telah salah dalam menjuruskan kalian. Di samping kalian sendiri yang salah dalam memilih teman bergaul. Saya tidak akan berkata panjang lebar. Hanya saya akan menawarkan pada kalian. Jika kalian ingin meluruskan jalan kalian, saya sanggup memberi petunjuk. Jika tidak toh itu urusan kalian juga. Aku akan segera meneruskan perjalanan.
Dari dialog di atas jelaslah bahwa orang tua juga memegang peranan penting dalam perkembangan anak sehingga di sini perlu juga diperhatikan kelakuan dari orang tua dalam hal mendidik anak karena ada pepatah mengatakan bahwa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan di atas mengenai hasil analisis terhadap naskah drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Yaitu dengan sosiologi karya sastra yakni mengamati apa konflik sosial yang terdapat dalam karya sastra itu sendiri, maka kita dapat menyimpulkan bahwa isi dari drama “Sebelum Sembahyang” karya Kecuk Ismadi C.R adalah mengangkat tentang isu-isu sosial dan keagamaan yang di mana dalam drama ini terdapat konflik yang memaparkan tentang kenakalan anak manusia yang telah salah memilih jalan hidup, yakni keempat orang ini memilih untuk menjadi pencopet yang di mana perbuatan seperti itu adalah perbuatan yang salah dan melanggar hukum. Dan terjerumusnya keempat orang pencopet ini  salah satu faktornya adalah karena mereka jauh dari agama yang disebabkan oleh didikan orang tua yang telah salah serta faktor-faktor lingkungan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Escarpit, Robert. Ida Sindari Husen (ed). 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Salden, Ramah. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Warren, Austin dan Rene Wellek. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar