Hear U'r God

Hear U'r God
Sebuah potret atas ilham-ilham yang akan Allah berikan pada kita untuk kekuatan kita menempuh hidup di dunia ini. Dengarkan baik-baik setiap dengungan nadanya, intonasinya, dan warnanya yang membentuk suatu kesatuan petunjuk kebenarannya..

Selasa, 12 Juli 2011

Cerpen: Mendengar Lagu Jalan Terbaik

Mendengar Lagu Jalan Terbaik

ku yakin kita akan bahagia
tanpa harus selalu bersama
tak perlu disesali
tak usah ditangisi
           (Jalan Terbaik dari Seventeen)
Pukul 05.00. Waktu masih terlalu pagi atau bahkan dini buat Bima untuk membuka matanya. Tentu dia masih akan menutup matanya dalam waktu dua sampai tiga jam yang akan datang. Jendela dengan selambu kamar kosnya dibiarkan tertutup sampai dia benar-benar menguasai sepasang matanya untuk melihat jendela dunia. Bahkan suara-suara tape musik yang mengumandangkan adzan dan dilanjutkan dengan lagu-lagu senam olahraga orang lansia milik rumah tetangganya tidak dapat menembus mata dan telinganya.
Itulah Bima seperti biasanya ketika tertidur setelah menghabiskan malam dengan teman-temannya.
Tetapi tidak dengan hari ini, dia terbangun tepat pukul 05.00. Bima sendiri merasa bingung dengan bangunnya dan hilangnya rasa kantuk secara tiba-tiba dan tidak biasanya. Padahal dia sangat ingin tertidur lebih lama dari biasanya, lebih dari empat jam biasanya. Dia menyesal tidak membeli minuman tadi malam untuk menghiasi tidurnya. Namun dia berfikir kalau minuman bukanlah garansi yang tepat untuk menghilangkan rasa kecewanya terhadap Ajeng. Dia terlibat pertengkaran pemikiran dengan Ajeng atas masalah yang mereka hadapi. Adu gengsi dan keegoisan keduanya membuat mereka tidak menemukan jalan tengah mereka yang terbaik. Sulit bagi mereka dalam mempertahankan argumen, merasa benar dalam berpijak di pemikiran masing-masing.
Bima menatap sayu sudut atas ruangannya yang terpenuhi oleh sawang laba-laba, hingga matanya beralih pada mesin pendingin kamarnya yang menghembuskan udara dingin. Dia lalu mematikan mesin tersebut dengan remote-nya.  Dia masih menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya, seolah dia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menggosokkan kedua jari telunjuknya untuk mengelap sudut matanya yang tiba-tiba berair karena penyesalan yang terjadi. Matanya telanjang menatap bebas langit-langit kamarnya ke kanan-kiri tak beraturan. Otaknya berputar mencari cara untuk menghiasi hari-hari ke depannya. Tidak perlu hari-hari berikutnya, tetapi apa yang perlu ia lakukan untuk detik-detik selanjutnya. Dia menatap ke arah meja di samping ranjangnya, dia mengambil pemutar musik digitalnya, tentu hal itu merupakan pilihannya mengambil keputusan agar menghilangkan kesedihannya di bangun tidur anehnya ini.
Bima memilih secara acak lagu yang akan diputarnya, dan lagu dari Seventeen yang berjudul Jalan Yang Terbaik yang terpilih. Tentu dalam keadaan masih terbaring seperti seorang penyakitan dia melamun. Bahkan pecundang kelas kakap-pun lebih baik dari keadaan Bima sekarang. Bima memutar lagu itu dengan volume cukup rendah agar dia mengalami setidaknya catharsis dan melupakan kejadian malam tadi. Karena memang itu yang sangat dibutuhkan oleh Bima saat ini, apalagi keadaan kamarnya masih seperti saat dia bangun tidur tadi.
Bima mencoba pasrah dengan lagu yang akan ia dengarkan tersebut, lagu itu dibuka oleh intro sebuah petikan gitar pelan dan dilanjutkan dengan masuknya beberapa alat musik lainnya seperti drum, bass, dan rythem. Dia tentu masih melamun bebas dengan keadaan yang menguntungkan jika makhlus halus akan merasukinya saat mendengarkan itu. Alunan musik slow yang agak keras sedikit membuat dia terkontrol oleh petikan gitar yang terasa menuju alur kepada kesedihan.
Kekosongannya terisikan oleh suara penyanyinya yang berucap “Semua telah berakhir; tak mungkin bisa dipertahankan; hanya luka jika kita bersama; karna jalan ini memang berbeda.” Penggalan bait tersebut membawa Bima ke dalam kejadian yang terjadi pada tadi malam dengan Ajeng. Lirik yang diucapkan oleh penyanyinya seolah mencerminkan kesedihan yang melanda Bima. Dia meresapi benar-benar bait lagu itu, seolah di depannya hadir bayangan semu visual berupa pertengkaran antara dirinya dengan Ajeng. Dia dan Ajeng telah berakhir tadi malam dalam kesedihan. Hubungan mereka habis dalam suatu keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk bersatu. Sangat sulit bagi mereka untuk mempertahankan hubungan mereka.
“Kamu tentu bisa berfikir Jeng, maksudku pikirkan kita jangan dirimu saja.” Pinta Bima.
“Adakalanya kita berfikir demi kebaikan kita berdua ke depan.” tambah Bima.
“Semuanya telah kupikirkan secara baik-baik Bim. Kamu, kamu, dan kamu. Ini semua merupakan yang terbaik buat kita berdua” Balas Ajeng.
“Apa aku bersalah jika aku memilih jalan yang terbaik demi kebaikan kita.” Tambah Ajeng.
“Apakah keberakhiran merupakan sesuatu yang baik buat kita berdua? Jawablah Jeng! Iya ini kebaikan buat kamu dan kehancuran buat aku.” Balas Bima.
Mereka terlibat adu mulut dengan argumen-argumen yang menurut mereka benar seratus persen. Keheningan malam tidak membuat mereka menghentikan ataupun menurunkan tensi pembicaraan mereka. Sepasang kekasih yang tengah bertengkar untuk berpisah. Seperti lirik lagu tersebut, hubungan mereka memang sulit dipertahankan. Tidak ada lagi cinta, yang ada hanya nafsu dan egoisme memuncak. Bima memang menyayangkan pertengkaran yang berujung perpisahan ini, dia sangat berekspetasi menjadikan Ajeng untuk dinikahinya kelak nanti. Namun bagai telur yang diujung tanduk, hubungan mereka rentan akan pertengkaran. Bima meskipun mencintai Ajeng, namun dia masih terpengaruh oleh kemenangan egoisme yang menguasainya. Sehingga dia tidak mau mengalah sedikitpun.
Pertengkaran ini sering terjadi. Seolah hal ini merupakan klimaks dari pertengkaran-pertengkaran yang sudah ada sebelumnya. Seperti lirik lagu tersebut, hanya luka batin yang akan timbul jika tetap menjalin hubungan ini. Perbedaan mereka tidak bersifat dinamis, malahan bersifat statis di tempat. Ajeng yang masih memegang teguh kepatuhan kepada keluarganya tentu tidak ingin dinilai buruk oleh keluarganya hanya karena tidak mau menikah dengan orang pilihan orangtuanya, meskipun dia sangat mencintai Bima. Bima sendiripun bisa dikatakan cinta mati kepada Ajeng dan ingin menjadikan Ajeng sebagai yang terakhir dalam hidupnya. Tentu Bima merasa terpukul dan tersakiti apalagi dengan nafsu amarahnya yang sering memuncak karena Ajeng seolah tidak ingin niatan baik ke depannya bersama Bima.
“Bim, aku dilahirkan oleh siapa??” bentak Ajeng kepada Bima.
“Aku mencintaimu, jangan kau ragukan. Tetapi aku tidak kau lahirkan. Orangtuaku yang melahirkanku, membiayai hidupku sampai saat ini, dan mencintaiku selalu.”
“Apa tidak sangat merasa terhukum aku jika mengacuhkan permintaan mereka?”
“Kuharap kau berfikir dengan hati yang lapang dan memikirkan semuanya dengan baik-baik. Tuhan punya rahasia lain tentang kita.” Tambah Ajeng.
“Tuhan punya rahasia apa??” balas Bima.
“Inilah ketidakadilan yang tidak bisa kuterima dengan sepenuhnya Jeng.”
“Andai kamu yang berada di posisiku. Saat kita merasa bahwa kita benar-benar menyayangi seseorang dengan sepenuh hati tanpa cacat sedikitpun dan ingin mencintai dalam bentuk pernikahan. Semua itu terancam tidak terlaksana dengan baik karena seseorang yang dicintai tersebut tidak menginginkan kita.” Tambah Bima.
“Aku menginginkanmu Bima!!” balas Ajeng.
“Dengan sepenuh hati.”
Pertengkaran seperti itulah yang sering mereka alami dan berakhir dengan perpisahan keduanya dengan ego yang tidak karuhan. Tidak ada yang mau mengalah menurut Bima. Ajengpun sering tidak bisa menahan emosinya karena Bima terlihat sangat menyalahkan orangtua Ajeng. Jalan mereka telah berbeda dan memang berbeda tidak dalam perspektif keduanya, melainkan lewat perspektif egois dan nafsu amarah mereka.
Bima dan Ajeng merupakan pasangan yang sangat pantas untuk dilihat. Kendati Bima merupakan bekas seorang yang bisa dikatakan player, namun Ajeng tetep mau terima Bima apa adanya pada saat mereka membentuk hubungan ini. Karena Ajeng berfikir jika dia ingin mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna, hal itu juga ditambahi dengan Bima yang akan berhenti dalam mencari cinta, karena telah menemukannya. Saat berada di kampus, mereka terlihat biasa tetapi terlihat memiliki kekuatan yang kuat untuk bergandengan tangan dan membuat iri orang-orang yang melihatnya.
“Kamu seperti virus komputer yang menyerang CPU dan harus di-off-kan dahulu agar dapat membersihkannya.” Puji Bima kepada Ajeng.
“Hmm, apa artinya itu, aku harus berpura-pura tidak mengerti perkataanmu Bim. Karena ya memang sangat sulit untuk kumengerti.” Ledek Ajeng.
“Pernah mendengar lagu ‘Wanita Racun Dunia’ Jeng? Tapi aku lebih memilih kata virus kepadamu. Dengan kata virus tersebut itu, aku harus membunuh diriku sendiri untuk menghilangkan cintamu padaku.” Terang Bima.
“Suatu metaforakah itu? Aku rasa lelaki sering menggunakan kata-kata superdupernya agar membuat seseorang yang dipujanya merasa tertarik.” Balas Ajeng.
“Lebih ke arah menggombal kepadamu.” Timpal Bima.
Pukul 05.15. Bima masih terus memutar lagu tersebut secara berulang kali. Kata demi kata yang ia dengar selalu membawanya ke dalam ingatannya mengenai Ajeng. Masih tetap menatap kosong langit-langit kamarnya, sekali-kali matanya menatap sudut-sudut rumahnya yang telah dipenuhi oleh sawang laba-laba. Bahkan karena debu yang terjatuh dari sawang itu, Bima menjadi bersin-bersin. Selain itu dia sering mengusap mata-matanya hingga berair. Sehingga air yang keluar dari matanya merupakan campuran antara air mata karena menangis sedih dan air mata menangis karena terusap.
Kerlap-kerlip matanya ia lakukan untuk menahan air mata yang sedikit-sedikit keluar. Karena mungkin terasa berat bagi dirinya di saat dia telah menetapkan hati untuk seorang wanita, namun harus hancur karena tidak tersambut oleh wanita tersebut. Kedua jari telunjuknya ia gunakan untuk mengelap air matanya, lalu menutup matanya oleh kedua tangannya. Terasa berat buat dirinya. Impian besar telah dibangun, namun hancur oleh perbedaan prinsip oleh wanita yang ingin menuruti permintaan orangtuanya. Ajeng, baginya seseorang wanita yang terakhir untuknya. Seorang wanita yang sangat ingin untuk dinikahinya. Adakalanya ia berfikir jika ini hanya kerikil kecil dalam hubungannya, adakalanya juga ia berfikir jika ini karma atau balasan kepadanya karena telah menghianati wanita-wanita yang pernah ia pacari sebelumnya. Tapi itu semua ternafikan oleh pikirannya jika ini bukan apa-apa, bukan sesuatu yang untuk ditakutkan. Egoisnya memuncak, namun itu bakal menjadi sampah jika ia merasa sedih karena perpisahannya dengan Ajeng. Besar harapan Bima kepada Ajeng.
Hingga Bima mendengarkan dengan baik-baik pada reff  lagu tersebut. Lirik reff  lagu tersebut ternyata membuat dirinya bergerak untuk segera menyadari bahwa egoisnya harus dihancurkan terlebih dahulu. Harus dihancurkan jika Bima ingin segera keluar dari kesedihan. Nada yang terdapat pada lagu tersebut membuat dirinya merasa bangkit dan diunggulkan untuk berusaha bisa tersenyum bebas. Sampai pada lirik “ku yakin kita akan bahagiadan berlanjut ke lirik “tanpa harus selalu bersama” . Dua lirik tersebut membuat dirinya merasa unggul dan membayangkan visual apa yang diinginkan selama ini.
“Kegagalanku saat bersamamu membuatku bangkit untuk meraih cita-citaku, sebagai ilmuwan. Lihatlah betapa bahagianya aku menjadi seorang yang sukses.” Ucap Bima.
“Selamat atas kesuksesanmu Bim. Aku jugapun telah mencapai titik bahagiaku karena menikah dengan orang pilihan orangtuaku.” Timpal Ajeng.
“Kau bisa lihat kan kita telah bahagia masing-masing. Jadi tidak ada yang perlu disesali bahkan ditangisi kemudian. Kau telah mempunyai duniamu sendiri yang sangat engkau banggakan, kerjakerasmu membuat kau menjadi sukses. Bahkan akupun bahagia dengan kehidupan keluargaku. Hidup bersama dengan orang yang menyayangiku. Pilihan orangtuaku. Tentu hal itu membuat orangtuaku bangga dengan apa yang aku lakukan.” Tambah Ajeng.
“Apakah itu definisi hidup bahagia?” tanya Bima.
“Maksudmu hidup bahagia?” tanya balik Ajeng.
“Ya seperti yang kau bilang tadi, menikah dengan orang yang sangat menyayangi kita dan menuruti apa yang dikatakan orangtuamu.” Balas Bima.
“Seperti itukah? Bagiku kita bahagia dengan menikah orang yang kita sayangi sepenuh hati dan orang yang menyayangi kita hingga ujung dunia.” Lanjut Bima.
“Orangtuaku merupakan segalanya yang masih kumiliki hingga saat ini. Mereka merupakan sosok yang harus kujaga dan melakukan semuanya jadi seperti apa yang mereka  pinta padaku.” Balas Ajeng.
“Ya terserah pendirianmu Ajeng. Toh perpisahan kita tidak akan membuatku menangis. Hal yang tidak perlu untuk dilakukan. Bahkan sesalku padamu tak perlu kuhiraukan lagi.” balas Bima.
Bayangan visual tersebut masih menyimpan keegoisan dari Bima yang sejatinya tidak ingin terpisah oleh Ajeng. Namun hidup ini terus berlanjut bagi Bima. Bertahan dalam sesuatu yang tidak pasti arahnya membuatnya menjadi semakin terpekik oleh kehidupan cintanya. Dia tentu berharap tidak perlu menyesali semuanya yang terjadi.
Pukul 05.30. Dia akhirnya terbangun dari keadaan terbaring, tentu dengan mematikan mesin pemutar musik dahulu. Mesin pemutar musik itu digulung kabelnya dan dimasukkan ke dalam laci mejanya. Sedikit ia menoleh ke arah foto yang berada di sudut meja tersebut. Terdapat Ajeng dalam bentuk dua dimensi. Lalu tidak pakai lama, dia memasukkan juga bingkai foto Ajeng tersebut ke dalam laci mejanya. Adakala perasaannya terjadi pertarungan batin antara cintanya kepada Ajeng dengan logika positivisme yang diperolehnya setelah mendengar lagu tersebut. Namun dia segera menutup laci mejanya seolah menutup lembaran lamanya. Dia mulai memperbaiki sistem kehidupan yang buruk ia lakukan selama ini. Mulai merapikan sprei tempat tidurnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Mukanya terasa segar dengan cipratan air yang mengguyur wajahnya.
Dia berjalan ke arah kamarnya lagi dengan wajah yang sumringah dan langkah yang tidak sempoyongan seperti biasanya dia berjalan. Dibiarkan pintunya terbuka dan melangkahlah ia ke arah jendela yang masih dtembus samar-samar oleh sinar matahari pagi. Dibukanya jendela beserta gorden yang ia pasang. Terasa angin menyambar wajahnya yang berwajah terang karena sinar matahari. Pertama ia merasa silau dengan sinar tersebut, namun berikutnya ia menutup matanya dan mengeluarkan senyumnya. Harapan besar baginya untuk mampu mengeluarkan pikiran tentang Ajeng, orang yang akan dibuang dari pikirannya. Karena memang sejatinya, ini merupakan jalan yang terbaik baginya, perpisahan bukan akhir segalanya, namun awal dari hidup Bima ke depan.
tak perlu disesali
tak usah ditangisi
***********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar